Mencintai dengan pandangan orang lain
Kala itu aku sedang berbincang
sederhana dengan adikku.
Dia lebih dewasa pemikirannya dibanding
umurnya.
Pembahasan
kala itu mengenai betapa pengaruhnya pandangan orang lain terhadap keputusan
untuk mencintai seseorang. Padahal belum tentu orang tersebut cocok dengan
kita, tapi kita lebih respect dengan “kata orang”.
Pernahkah
kamu menyukai seseorang karena dia tenar?, karena dia ganteng?, karena banyak
orang menyukainya juga?.
Jawabannya
adalah Iya, pernah. Dan hampir semua orang mengalami itu. Kemudian si dia yang
terkenal tersebut berpacaran dan putus. Pasti dari kalian pernah “nyinyir”,
“sok tahu”, padahal kalian tidak pernah tahu bagaimana detilnya.
Kemudian
terdengar kabar jika berpacaran dengan orang yang tidak seterkenal sebelumnya.
Dapat dipastikan bahwa kalian akan berkomentar lagi. Komentarnya mungkin “kok
sama dia, masih gantengan yang dulu atau masih keren, masih lainnya dari pada
yang dulu”. Kalian tidak pernah tahu antara yang dulu dan sekarang, bisa jadi
yang sekarang lebih baik dibanding dulu entah dari sisi apapun itu. Karena
setiap orang terbaik dengan caranya masing-masing.
…….
Pernah
berfikir? ketika berbicara “ah si A pacarnya ganteng, masa’ kamu enggak. Kan
kamu lebih cantik” atau “Si B punya mobil baru, padahal uangnya kan banyakkan
kamu”. Please, Stop!!! Jangan membanding-bandingkan. Kita tidak pernah tahu kan
uangnya dibuat apa?, kita tidak pernah tahu mengapa dia tidak memilih laki-laki
yang tampan?. Setiap orang mempunyai alasannya masing-masing dan kita tidak
tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa diinginkan.
Seorang
wanita pernah bercerita kepadaku, dulunya dia berpacaran dengan laki-laki yang
biasa saja. Semenjak bersama, laki-laki tersebut menjadi sosok yang dikenal
banyak orang. Entah dorongan dari sang wanita atau karena laki-lakinya yang
begitu hebat. Mereka bersama bertahun-tahun, sang lelaki yang semakin
membanggakan dan semakin sibuk dengan aktivitasnya. Hingga suatu hari sang
lelaki memutuskan hubungan dengan sang wanita saat mereka telah bekerja. Setengah
tahun berlalu, sang wanita bercerita kepadaku.
“Aku
tak pernah menyesal telah berpisah dengannya. Malah aku bersyukur”. Katanya
“Bukankah
dia orang yang hebat, pintar, terkenal, dan banyak orang yang sudah mengenalnya.
Bahkan banyak orang yang mengenalmu salah satunya karena dia?” Tanyaku
“Aku
bingung, apakah aku benar-benar mencintainya atau aku menyukai
sanjungan-sanjungan orang lain yang mengatakan sepertimu” Jelasnya
“Bukankah
kamu bahagia dengannya dulu?” Tanyaku kembali
“Aku
bahagia dengan omongan orang mengenai dia. Aku merasa beruntung memilikinya
saat itu, tapi aku tidak yakin apakah aku benar-benar bahagia atau aku bahagia
karena aku mencintainya. Dia sibuk dengan kehidupannya sendiri, jarang sekali
dia memberikan surprise kepadaku. Meskipun aku sering merepotkannya, aku merasa
aku tidak berguna dikehidupannya.” Terangnya panjang kali lebar.
“Beruntung
berarti kalian harus berpisah. Rencana tuhan lebih baik dari rencana manusia
dan tentu Tuhan lebih mengetahui dari pada dirimu sendiri” jelasku untuk
menghiburnya.
Perbincangan
simple, tapi pernah merasakan jika memang semua orang mempunyai pilihannya
masing-masing dan mempunyai target nyaman yang berbeda-beda. Begitu juga
sebaliknya.
Cerita
lainnya. Seorang wanita teman dari adikku, dan adikku yang menceritakannya.
Jika wanita ini berpacaran dengan laki-laki yang mana kata teman-temannya,
laki-laki tersebut orang yang idealis, membosankan, dan menjengkelkan. Banyak
orang yang tidak menyukainya dan menyayangkan jika sang wanita tersebut harus
berpacaran dengan laki-laki tersebut. wanita tersebut bisa mendapatkan jauh
lebih baik dari lainnya. Tapi sekali lagi kita telaah, sang wanita tersebut
menyukai kepribadian laki-laki tersebut yang bersifat kekeh dan tidak
membolehkan sang wanita untuk memutuskan suatu hal dengan kata “terserah”. Dan
sang wanita tersebut menerimanya dan mereka terlihat bahagia sampai detik ini.
Terkadang
apa yang terlihat bahagia, tidak sebahagia itu. Begitu juga sebaliknya, terkadang
apa yang terlihat tidak bahagia dimata orang lain, ternyata mereka bahagia dan
menerima itu.
Ketika
kamu memandang dia baik, ganteng, kaya, pintar atau lainnya. Belum tentu semua
orang bisa cocok dengan dia. Atau ketika kamu memandang dia tidak baik, jelek,
bodoh, atau lainnya maka belum tentu semua orang memandang seperti itu. Pilihan
orang lain berbeda, kecocokan antara manusia satu dengan lainnya juga berbeda.
Tapi
mungkin ada catatan, kita juga butuh pendapat orang lain mengenai dirinya. Tetapi
bukan berarti kita menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan. Karena
pandangan orang terkadang benar dan terkadang juga ada yang kurang tepat.
Jadi,
please don’t judge seseorang dari covernya saja. Mau itu wajahnya, mau itu dari
ketenarannya, atau humblenya. Kalian
tidak pernah tahu apa yang mereka butuhkan sebenarnya. Sosok yang seperti apa
yang memang bisa mengerti mereka.
Karena
bahagia seseorang akan berbeda dengan yang lainnya. Karena kebahagian
sebenarnya adalah bagaimana cara mereka bersyukur apa-apa yang sudah
didapatkannya dan apa-apa yang dimilikinya.
Sudahlah
tutup mata dan telingamu karena mereka tidak tahu apa yang kamu lakukan dan
rasakan. Mereka hanya mengomentari apa yang mereka lihat saja, tanpa mereka
tahu yang sebenarnya. Mereka tak pedulikan tentangmu, mereka hanya penasaran,
kemudian pergi dan berlalu.
Bonus Cerita dari kisah Luqman AL-Hakim dan Keledai:
"Lakukanlah
apa yang menjadi kemaslahatan dirimu, baik itu mengenai agamamu maupun duniamu,
dan laksanakanlah semua urusanmu itu hingga tuntas. Jangan engkau pedulikan
orang lain dan tak usah engkau dengar perkataan dan cemoohan mereka. Karena
bagaimanapun engkau tidak akan mampu untuk membuat semua mereka menjadi puas,
dan engkau pun tidak akan mampu untuk mempersatukan semua hati mereka".
Comments
Post a Comment